Desa wisata ini menghasilkan kerajinan gerabah yang dimulai dari dulu secara turun temurun. Kemudian tahun 1975 ditetapkan sebagai desa wisata. Perkembangan desa wisata ini mengalami kejayaan di tahun 90an dan sempat mengalami penurunan di tahun 2000an, terlebih ada peristiwa gempa bumi Jogja 2006. Kini desa wisata ini mulai berbenah.
Di
Desa Panjangrejo ini para wisatwan dapat memilih beraneka ragam hasil
produk dari tanah liat tersebut, dari yang tradisional seperti tungku,
padasan sebagai tempat wudlu atau maron sebagai tempat air dan juga
produk yang sudah dkembangkan seperti halnya wine cooler yang berfungsi
sebagai tempat botol, kap lampu, tempat lilin, topeng, patung, dan
berbagai souvenir. Berbagai peningkatan kualitas selalu diupayakan di
desa Panjangrejo tersebut guna menghasilkan gerabah yang bagus baik dari
segi mutu maupun segi desain sehingga menarik karena berkesan artistic.
Para
wisatawan pun di desa Panjangrejo tersebut dapat secara langsung
gerabah, pundong, panjangrejomenikmati cara pembuatan gerabah gerabah
tersebut, sekaligus bisa berinteraksi langsung dengan para pengrajin
gerabah tersebut. Hal ini sangat menarik disamping kita bisa melihat
proses sekaligus pembelajaran bagi para wisatawan untuk mendapatkan
pengetahuan yang baru tentang pembuatan gerabah tersebut. Di tempat ini
dalam produksinya dibedakan menjadi dua jenis produk yakni produk alami
tanpa bahan kimia seperti tamarine dan terraccota dan produk hasil
pengecatan. Selain itu para wisatawan dapat juga berbelanja produk
ditempat ini tentunya dengan harga yang lebih murah dan terjangkau.
