Watu Ngelak merupakan sebuah situs bersejarah berupa sebuah batu besar yang membentang di pinggir Kali Opak. Situs ini berada di Dusun Puton, Desa Trimulyo, Jetis, Bantul. Menurut penduduk setempat, Watu Ngelak adalah tempat Sultan Agung Hanyakrakusuma bersemedi.
Watu
Ngelak di Dusun Puton memiliki nilai sejarah yang telah dipercaya masyarakat secara turun temurun. Sejarah nama Watu Ngelak berawal ketika
Sultan Agung Hanyakrakusuma berkelana dari Kraton Plered. Ia menyusuri
Sungai Opak menuju Laut Kidul untuk bersemedi. Di tengah perjalan,
Sultan Agung berhenti di bebatuan (Bukit Batu) dan meraba-raba (istilah
Jawa= gremeng-gremeng) sehingga lokasi tersebut kini dinamakan Gremeng
(Dusun Sindhet). Ketika Sultan Agung merasa haus, seorang anak yang
sedang mencari ikan memberinya minum air kelapa, sehingga Sultan Agung
menamai bukit batu itu Watu Ngelak (lit. "Batu Haus"). Dusun di sekitar
bukit batu diberi nama Puton (dari bahasa Jawa putu) yang berarti cucu,
karena anak kecil yang memberinya minum adalah cucu seorang janda di
desa Dadapan, sebuah wilayah di selatan dusun Puton. Potensi wisata
situs ini telah mendapat perhatian Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul.
Desa
wisata Puton terletak di Puton, Jetis, Bantul Yogyakarta. Dikawasan ini
terdapat berbagai potensi wisata yang dapat menarik wisatawan. Dusun
Puton berdiri pada luas tanah kurang lebih 70 Hektar dengan jumlah
penduduk 1.284 jiwa yang dibagi menjadi 393 kepala keluarga. Di dusun
Puton terdapat wisata alam watu ngelak dan sungai Opak yang dapat
dimanfaatkan untuk berwisata. Disamping kerajinan potensi seni budaya
yang dimiliki oleh Desa Puton diantaranya adalah karawitan,
pedalangan/wayang kulit, kethoprak remaja, tari tradisional, Gejog
Lesung, Sholawatan, Pertunjukan Band pemuda dan Hadroh. Kuliner yang
khas dari Desa Puton ini adalah industry peyek, kripik, kacang sangan,
serta sego wiwit, masakan ikan segar, masakan tradisional di pondok wisatanya.

